Peliharalah imanmu dengan memperbanyak sedekah, bentengilah hartamu dengan mengeluarkan zakat, dan tolaklah gelombang bencana dengan senantiasa berdo'a kepada Allah (Ali bin Abi Thalib r.a.)
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jasmani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jasmani. Tampilkan semua postingan

Agar tak Terkecoh Saat Membeli Obat

Posted by soni On Sabtu, 21 Januari 2012 0 komentar
Setiap orang yang memeriksakan diri ke dokter tentu memiliki harapan dapat kembali merasakan nikmat sehat. Namun, ada kalanya obat yang dokter resepkan ternyata tidak manjur. Meski ada kemungkinan lain, obat palsu juga dapat menjadi alternatif penyebabnya.

Hendra yang diabetesi pernah mengalaminya. Ia tergiur dengan harga obat yang lebih murah di toko obat. "Selisihnya dengan di apotek sekitar Rp 20ribu untuk satu dus obat pengontrol kadar gula darah," kenangnya. Hendra mengira perbedaan harga yang signifikan itu sesuatu yang wajar. Sebab, tempat penjualan obat yang didatanginya terletak di kawasan Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. "Sewa tokonya saja pasti lebih murah daripada apotek yang berpendingin ruangan."

Dugaan Hendra keliru. Rupanya, obat tersebut murah lantaran palsu. "Setelah satu minggu mengkonsumsinya, hasil pemeriksaan kadar gula darah saya malah tinggi," keluhnya. Hendra pun mencermati kembali obat yang dibelinya dengan harga lebih murah itu. Ia membandingkannya dengan kemasan obat yang didapatkannya dari apotek. "Nyaris tidak ada perbedaan yang berarti kecuali hurufnya yang lebih kecil," urainya.

Dra Lucky Slamet MSc mengungkapkan obat palsu memang sukar dikenali. Terkadang, kemasan hingga fisik obat terlihat serupa dengan aslinya namun isinya hanya mengandung tepung. "Tetapi, ada juga yang produknya tampak jelas mencurigakan secara fisik," urai deputi bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini.

Lantas, bagaimana cara memastikan keaslian obat? Lucky mengatakan hanya uji laboratorium yang bisa mengungkapkan secara gamblang produk mana yang palsu. "BPOM secara berkala melakukan sampling obat dan membeli secara menyamar untuk menjaring obat palsu yang beredar di masyarakat."

Lantaran sukar mengenali obat palsu, BPOM memberikan tips sederhana bagi masyarakat. Utamanya, konsumen kesehatan diimbau untuk membeli obat resep dokter hanya di apotek yang terdaftar. "Obat asli tidak akan masuk ke rumah obat yang tidak terdaftar," cetus Lucky dalam diskusi media beberapa waktu lalu (22/11) di Jakarta.

Merugikan
Pemalsu melakukan banyak trik dalam mengelabui konsumen obat. Mereka dapat meniru secara persis obat asli lalu menjualnya dengan merek yang sama ataupun mencaplok nama perusahaan farmasi lain. "Mafia obat palsu juga bisa mengurangi kadar zat aktif serta meniadakan atau mengganti zat aktif," ungkap Dr Slamet SH MH Kes.

Obat disebut palsu andaikan memiliki kualitas yang sangat berbeda. Pun, ketika ia menjadi tiruan obat aslinya. "Keberadaan zat aktif sayangnya belum tercakup dalam peraturan menteri kesehatan tentang obat palsu," sesal sekretaris jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.

Slamet menyatakan obat palsu sangat merugikan masyarakat dan dokter. Obat palsu bisa membuat pasien tidak teredakan keluhannya. "Akibatnya, mereka hilang kepercayaan kepada dokter yang meresepkan." Apa dampak konsumsi obat palsu? Efeknya bisa jadi ringan namun dapat pula mengancam nyawa. "Selama obat yang dipalsukan bukan zat aktifnya maka tidak membahayakan kesehatan," komentar Slamet.

Obat palsu berdampak langsung pada kesehatan orang yang mengonsumsinya. Seperti Hendra yang gagal mengendalikan kadar gula darahnya. "Akan sangat membahayakan kesehatan jika yang dipalsukan adalah zat aktif dari obat keras atau psikotropika," cetus Slamet.

Sementara itu, Parulian Simanjuntak menyatakan obat palsu dapat mendatangkan efek yang beragam tergantung bahan yang dipakai dalam pembuatannya. Pada antibiotik yang kadarnya tidak sesuai, risiko resistensi akan mencuat. "Lalu, pada obat lain dapat menimbulkan kecacatan bahkan kematian," papar ketua International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG).

Parulian tidak dapat mengungkapkan besaran kasus kematian terkait obat palsu. Sebab, datanya memang tidak tersedia. "Kematian akibat obat palsu biasanya tercatat sebagai akibat dari penyakit yang dideritanya." Banyak Dipalsu yakinkah Anda akan keaslian obat yang ada di tangan? Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza Badan Pengawas Obat dan Makanan, Lucky Slamet, mengimbau masyarakat agar lebih jeli dalam membeli obat. ”Sebab, pemalsuan dapat terjadi baik pada obat paten, generik, obat bebas, maupun obat tradisional.” Prof Dra Arini Setiawati PhD juga mensinyalir hal serupa. Modus para pemalsu terpetakan secara jelas.

”Mereka mengincar obat-obatan yang laris,” tutur kepala Unit Studi Klinis Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini dalam kesempatan berbeda. Obat laris merupakan obat yang dipakai secara berkelanjutan oleh masyarakat. Termasuk didalamnya obat malaria, antiretroviral, anti tuberkulosis, analgesik, dan antibiotik. ”Juga obat hipertensi dan diabetes,” imbuh Lucky.

Demi keuntungan berlimpah, pemalsu obat sengaja menyasar kelompok obat penyelamat nyawa (life saving). Selain itu, mereka juga melirik produk farmasi terkait gaya hidup. ”Seperti suplemen atau obat yang mendongkrak gairah dan stamina pria,” tutur Lucky.

Agar tidak Terkecoh
Obat yang paling mahal ialah yang tidak manjur. Anda sepakat dengan pernyataan tersebut? Jika iya, mari tingkatkan kewaspadaan terhadap konsumsi obat palsu. Bagaimana caranya? Tulus Abadi selaku pengurus harian Yayasan Pemberdayaan Konsumen Indonesia (YLKI) dan Dra Lucky Slamet MSc dari BPOM memberikan tipsnya:

Jangan mudah tergiur dengan khasiat obat. Label atau iklan dengan klaim khasiat muluk seringkali merupakan jebakan yang sengaja dipasang mafia obat palsu. Obat palsu sukar dikenali dari penampakan fisiknya. Uji laboratorium diperlukan untuk mengenali kebenaran kandungan atau bahan aktif obat. Karenanya, dapatkan obat dari sumber yang terpercaya. Obat resep dokter lebih terjamin keamanannya saat ditebus di apotek terdaftar. Kembali konsultasi ke dokter jika kondisi Anda tidak membaik atau memburuk setelah mengonsumsi obat yang diresepkan. Misalnya, darah tinggi Anda tidak turun meski telah mengikuti anjuran dokter atau rasa sakit tidak reda dengan analgesik yang telah diminum. Buang obat sisa dan rusak kemasannya. Ini akan menghindari penyalahgunaan oleh mafia obat palsu.


source: [http://republika.co.id]
» Baca selengkapnya... »

Mendengar kata herbal, apa yang terlintas di benak Anda? Kendati masyarakat telah turun-temurun memanfaatkannya dalam pengobatan, herbal tetap saja lebih inferior ketimbang obat konvensional. Betulkah ia kurang cespleng?

Menjawab pertanyaan tersebut, ahli herbal, Dr dr Amarullah H Siregar FBIHom DIHom DNMed menyodorkan sejumlah argumentasi ilmiah. Belajar naturopati di Inggris dan Amerika, ia mendapati banyak sekali daun, akar, ataupun benalu tumbuhan yang berkhasiat obat.

"Di lain sisi, seperti yang diumumkan WHO pada awal 2006 lalu, 1035 obat yang telah disetujui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat sepanjang tahun 1989 sampai 2000, tiga perempatnya ternyata tak memiliki makna mengobati."

Di Indonesia, obat dari bahan alami mayoritas masih masuk dalam kelas jamu dan obat herbal terstandar. Baru lima saja yang telah berada di golongan fitofarmaka terbukti memiliki khasiat serupa obat konvensional. "Padahal, hampir semua obat bisa disubstitusi dengan bahan alami," komentar dokter yang mendalami naturopati ini.

Sebut saja, antibiotik. Sesuai namanya, antibiotik berarti antibiota. "Saat dikonsumsi, bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan juga ikut terbunuh," ungkap Amarullah dalam Media Discussion Sehat dengan Herbal yang digelar Deltomed, Rabu (19/5) lalu, di Jakarta.

Ini berarti penggunaan antibiotik malah memunculkan masalah kesehatan yang baru. Orang yang mendapatkan antibiotik jangka panjang otomatis membutuhkan suplemen yang dapat menyuburkan kembali populasi bakteri sahabat saluran cerna. "Kalau ditunggu, ia baru bisa mencapai jumlah yang cukup setelah 48 sampai 54 hari kemudian," kata Amarullah yang juga konsultan homeopathic medicine.

Lalu, sekarang, mari simak bagaimana meniran menjalankan perannya sebagai antibiotik alami. Amarullah menuturkan, meniran pintar mengenali sumber masalah. "Hanya bakteri jahat saja yang ditumpasnya."

Namun, sebetulnya, bukan bahan aktif meniran yang berperang secara langsung. Meniran justru mendorong tubuh untuk bisa menyembuhkan diri sendiri. "Meniran mengaktifkan produksi kelenjar timus di paru-paru dan meningkatkan pasokan sel limfosit T yang berkaitan dengan ketangguhan imunitas hingga mampu mematikan bakteri jahat di tubuh," urai dokter naturopati jebolan Clayton College of Natural Health, Birmingham, Amerika Serikat.

Begitu keluhan hilang, konsumsi meniran bisa dihentikan. Tidak seperti antibiotik konvensional yang memang harus diminum sampai habis sesuai jumlah dan dosis yang diresepkan. "Obat herbal andaikan tak dibutuhkan tubuh akan langsung keluar melalui urine, tidak akan menumpuk di dalam tubuh," urai dokter yang memiliki klinik di Ragunan, Jakarta Selatan, ini.

Lebih lanjut, Amarullah mengajak masyarakat agar mengubah paradigmanya. Berobat bukan cuma menghilangkan gejala yang dikeluhkan. "Carilah kesembuhan dengan melacak akar penyakitnya." Amarullah mencontohkan kasus darah tinggi. Tak bijak jika penyakit ini cuma diredakan atau distabilkan dengan obat. "Akar penyakitnya ada di ginjal dan organ itulah yang mesti dikembalikan vitalitasnya."

Persoalannya, spesialis jantung dan kardiovaskular bukan dokter ginjal. Pasien harus ke dokter lain untuk mendapatkan pengobatan. "Sementara itu, dalam naturopati, ilmu kedokteran ini memperlakukan tubuh manusia sebagai satu kesatuan hingga tidak luput merevitalisasi ginjal pasien darah tinggi," kata Amarullah yang dipercaya menyusun kurikulum mata kuliah naturopati di Indonesia.

Obat herbal, lanjut Amarullah, tersedia juga untuk kondisi akut. Contohnya, obat batuk, pilek, serta radang tenggorokan pada anak. "Sudah tersedia dalam bentuk sirup dengan isi ekstrak jahe, cengkeh, lengkuas, kapulaga, dan kunyit yang berefek antiradang lalu dipermanis dengan madu atau gula aren."

Seiring dengan meredanya batuk, pilek, serta radang tenggorokan, Amarullah mengimbau agar sistem imunitas diperkuat. Untuk itu, antibodi harus digenjot. "Bisa dengan mengonsumsi meniran." Untuk pencegahan serangan batuk pilek berulang, Amarullah memberikan tips sederhana.
Minum saja bandrek. "Bisa juga dengan mencampur setengah serbuk bandrek dengan jahe plus lengkuas ketika terasa suara mulai parau dan bindeng."


source:  red: irf/rep: Reiny Dwinanda [http://republika.co.id]
» Baca selengkapnya... »

Menganalisis Penyakit dari Diagnosa Telapak Tangan

Posted by soni On Minggu, 15 Januari 2012 0 komentar
Kaedah Menganalisis Penyakit tanda-tanda yang terdapat pada telapak tangan
Mukadimah
“Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.  Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur : 31).
Dalam ayat tersebut di atas Allah swt melarang para wanita mukmin untuk menampakkan perhiasan (bagian tubuh) nya kecuali perhiasan (bagian tubuh) yang biasa nampak.  Menurut Allah swt ada dua bagian tubuh yang boleh ditampakkan oleh seorang wanita yaitu muka dan telapak tangan.

Sesungguhnya jika kita cermati secara lebih mendalam ayat tersebut mengandung rahasia yang sangat besar dan sangat berguna bagi kehidupan manusia, terutama dalam bidang kesehatan (pengobatan).  Muka dan Telapak Tangan adalah dua bagian tubuh yang dari keduanya kita bisa mengenali kondisi kesehatan serta penyakit yang diderita oleh orang yang bersangkutan.

Melalui raut muka kita bisa mengenali apakah orang yang bersangkutan dalam keadaan sakit atau sehat.  Raut muka juga bisa mengekspresikan karakter seseorang apakah dalam keadaan senang, sedih, gembira atau bahkan tertekan/stress.

Demikian halnya telapak tangan (Sign of Hand) bisa menggambarkan kondisi serta kelainan-kelainan yang terdapat pada organ-organ lain di dalam tubuh manusia.  Pada telapak tangan tersimpan seribu rahasia tentang kesehatan manusia.

» Baca selengkapnya... »