Peliharalah imanmu dengan memperbanyak sedekah, bentengilah hartamu dengan mengeluarkan zakat, dan tolaklah gelombang bencana dengan senantiasa berdo'a kepada Allah (Ali bin Abi Thalib r.a.)
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukses. Tampilkan semua postingan
Tips Melakukan 10 Kebiasaan yang Bisa Membuat Kaya
Seseorang yang sukses secara financial biasanya memiliki pemikiran, omongan, sikap dan perbuatan yang serupa karakteristiknya. Hal-hal tersebutlah yang justru menjadikan seseorang menjadi kaya. Kekayaan yang mereka dapatkan tidak turun begitu saja dari langit. Namun, kekayaan tersebut merupakan buah dari apa yang sudah mereka perjuangkan selama ini. Mereka bisa menjadi kaya karena memiliki pikiran, kebiasaan, sikap dan perilaku yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak sukses secara financial.
Berikut ini tips melakukan 10 kebiasaan yang bisa membuat Anda sukses secara financial (kaya):
2. Kebiasaan Bangun Lebih Pagi.
Apabila Anda berpikir bahwa pagi adalah suara kicau burung, sinar matahari menembus jendela atau secangkir kopi, semua jawaban Anda tentulah benar. Namun pada hakikatnya, pagi adalah masa depan! Pagi merupakan salah satu elemen penyusun kehidupan. Terlepas dengan cara apa Anda mengisi pagi, misalnya berolah raga, membaca koran, menyusun agenda kerja, menyapa tetangga, beribadah, membereskan rumah atau sekedar menyeduh teh dan mendengarkan lagu, maka "bangun pagi dapat membuat Anda menjadi seseorang yang tidak selalu tertinggal." Minimal tak tertinggal sinar hangat matahari yang dapat membuat mood Anda selalu segar.
source: tipsanda.com
» Baca selengkapnya... »
Seseorang yang sukses secara financial biasanya memiliki pemikiran, omongan, sikap dan perbuatan yang serupa karakteristiknya. Hal-hal tersebutlah yang justru menjadikan seseorang menjadi kaya. Kekayaan yang mereka dapatkan tidak turun begitu saja dari langit. Namun, kekayaan tersebut merupakan buah dari apa yang sudah mereka perjuangkan selama ini. Mereka bisa menjadi kaya karena memiliki pikiran, kebiasaan, sikap dan perilaku yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak sukses secara financial.
Berikut ini tips melakukan 10 kebiasaan yang bisa membuat Anda sukses secara financial (kaya):
1. Kebiasaan Networking.
Empat hal yang tak diberitahukan Tuhan kepada manusia, salah satunya adalah rejeki. Esok lusa Anda makan apa? Mendapatkan apa? Anda tidak pernah tahu. Akan tetapi, Tuhan mempersilahkan manusia berikhtiar. Mengusahakannya dengan sungguh-sungguh, seakan masih diberi waktu hidup seribu tahun lagi. Salah satu yang dapat membuka jalan ikhtiar itu adalah silaturahmi atau dalam istilah bisnis Anda kenal dengan nama networking. Manusia sejatinya merupakan makhluk komunikasi, artinya tidak bisa tidak, harus berkomunikasi. “Manusia selalu ingin menyampaikan sesuatu,” demikian menurut Aristoteles. Oleh karena itu, manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia selalu membutuhkan orang lain. Atau dalam teori umum, dikenal dengan istilah “manusia sebagai makhluk sosial”. Singkatnya manusia telah dibekali banyak hal untuk selalu melakukan interaksi dengan manusia lainnya dalam rangka menjalani kehidupannya. Artinya, manusia tinggal memaksimalkan konsep kodrati ini. Seperti bagaimana memaksimalkan telur menjadi sepiring omlet lezat.2. Kebiasaan Bangun Lebih Pagi.
Apabila Anda berpikir bahwa pagi adalah suara kicau burung, sinar matahari menembus jendela atau secangkir kopi, semua jawaban Anda tentulah benar. Namun pada hakikatnya, pagi adalah masa depan! Pagi merupakan salah satu elemen penyusun kehidupan. Terlepas dengan cara apa Anda mengisi pagi, misalnya berolah raga, membaca koran, menyusun agenda kerja, menyapa tetangga, beribadah, membereskan rumah atau sekedar menyeduh teh dan mendengarkan lagu, maka "bangun pagi dapat membuat Anda menjadi seseorang yang tidak selalu tertinggal." Minimal tak tertinggal sinar hangat matahari yang dapat membuat mood Anda selalu segar.
3. Kebiasaan Menetapkan Tujuan.
Tujuan adalah kalimat-kalimat yang selalu Anda tuliskan dalam buku catatan, lamunan, atau mimpi-mimpi kecil sebelum tidur. Tujuan bukanlah apa yang orang kenal sebagai sebuah kesuksesan, bukan pula halaman rumah tangga yang terlihat lebih hijau. Namun, tujuan adalah sesuatu yang membuat Anda merasa bersemangat untuk segera mencapainya, sekalipun Anda harus berusaha dengan susah payah. Thomas Alfa Edison (penemu bola lampu) dan Soichiro Honda (pendiri imperium otomotif Honda) adalah segelintir orang yang mampu meraih tujuan (mimpi-mimpinya) setelah melalui jalan yang berliku. “Orang melihat kesuksesan saya hanya 1%. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya,” tutur Honda.
4. Kebiasaan Berinovasi.
Janganlah berkecil hati, dengan mengatakan bahwa Anda tidak memiliki kelebihan sama sekali. “Yang saya lakukan hanya membakar bambu di pekarangan rumah,” ucap Tsai Lun, penemu kertas pertama di dunia. Kegiatan bakar-bakarannya, justru mengantarkannya untuk melihat bentuk bubuk kertas (pulp) bambu, dari sisa pembakaran. Yang pada akhirnya dikenal dengan ‘kertas’ sebagai pengganti ‘dedaunan’ untuk menulis. Jadi Anda tidak harus cerdas dan memiliki IQ tinggi, kuncinya adalah pada inovasi. Hal-hal baru bisa Anda dapatkan kapan saja dan dimana saja, asalkan Anda berani untuk melangkah jauh dari kebiasan yang menentramkan (baca: lepas dari zona nyaman). Adalah Lawrence Edward “Larry” Page dan Sergey Brin, pada pendiri mesin pencari di internet : Google, yang bisa lari dari zona nyaman untuk menciptakan inovasi. “Semua orang pasti bicara tentang kebutuhan dirinya, lantas apa yang bisa saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan orang itu?” ungkap Page. Maka Page pun menjawabnya dengan Google. “Bisnis saya sebenarnya hanya menggali informasi, menemukan kecocokan data satu dengan yang lainnya”, lanjut Brin.
5. Kebiasaan Berdoa.
Ora et Labora, atau terjemahan dari bahasa latin tersebut berarti, “berdoa dan bekerja”. Doa dan kerja adalah 2 sisi yang tidak bisa dipisahkan. Walaupun kesuksesan tidak dijaminkan, doa sudah tentu merupakan pengharapan. Seseorang yang berdoa tidak akan merasakan individualism menguasai dirinya. Oleh karena itu, konsep berdoa merupakan konsep perkawanan. Seseorang yang beragama beranggapan bahwa mereka tidak sendiri karena ada Tuhan yang selalu menemaninya.
6. Kebiasaan Melakukan Sesuatu Sesegera Mungkin.
Manusia memang bukan mesin yang akan langsung mengerjakan sesuatu setelah diperintah. Akan tetapi ingatlah satu hal, menunda berarti menumpuk pekerjaan. Semakin bertumpuk, Anda akan semakin bingung bagaimana menyelesaikannya. “Komputer adalah bisnis kecepatan, semakin cepat proses dalam komputer, maka hasilnya akan semakin baik buat semua,” demikian kata William “Bill” Gates, pemilik Microsoft Corp, tentang bisnisnya yang selalu memimpin trend pasar komputer dunia. Karena menurutnya dalam bisnis ini, siapa cepat dia akan menguasai, tidak ada istilah menunda dan terlambat dalam kamus hidupnya. Semua berpacu dengan waktu.
7. Kebiasaan Melakukan Introspeksi.
Siapa Anda? Anda adalah apa yang dipikirkan. Bagaimana Anda berpikir menentukan bagaimana Anda bertindak. Bagaimana Anda bertindak menentukan bagaimana orang lain beraksi terhadap Anda. Kalau Anda merasa tidak penting, maka Anda menjadi tidak penting di mata orang lain. Tak akan ada kejayaan di Prancis jika Napoleon tak mengenali dirinya dengan sebenar-benarnya. Hanya tahu kalau dia adalah manusia bertubuh pendek. Napoleon mengenali dirinya lewat potensi yang dimiliki dan juga kekurangan yang harus diperbaiki. "Ketika Anda adalah apa yang Anda pikirkan, berarti Anda akan memahami apa yang disebut sebagai kesadaran diri (self awareness)."
8. Kebiasaan Tepat Waktu.
Waktu dilahirkan sejak abad ke 13. Kini telah 800 tahun waktu berlaku. Apakah manusia semakin efektif? Atau semakin menghamburkan waktu? Tentu Anda akan merasa kesal jika orang yang ditunggu datang terlambat. Begitu pun sebaliknya. Setiap hari setiap orang punya agenda. Tentunya Anda tak mau merusaknya bukan? Kunci untuk membuat semua agenda Anda berjalan lancar adalah konsekwensi dengan apa yang telah Anda rencanakan. Konsekuensi tersebut bisa dimulai dengan datang tepat waktu. Menepati sesuatu adalah janji, dan janji adalah hutang."Dengan datang tepat waktu, berarti Anda telah menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas apa yang telah Anda janjikan."
9. Kebiasaan Berderma.
Mengurangi apa yang Anda miliki, apakah benar menghilangkan sebentuk kepemilikan? Pemberi terbesar apakah menjadi seorang yang termiskin sedunia. Tangan di atas lebih baik dari tangan dibawah. Apa maksudnya? Ketika orang kaya merasa fakir, dia akan menjadi serakah dan tidak menyisakan bagian bagi banyak orang. “Semua yang ada di dunia ini, mampu memberi makan yang lebih bagi semua orang. Namun, keserakahan dari orang kaya yang fakir adalah penyebab malapetaka di dunia,” ucap Mahatma Gandhi. Lalu apakah obat dari kefakiran? Obatnya adalah berderma. Orang yang mengurangi sebagian hartanya untuk membantu saudaranya yang lain walau saudaranya tersebut tidak pernah meminta adalah orang yang tidak pernah fakir. Bisa jadi orang yang suka berderma adalah orang yang menurut Anda miskin, bahkan ia rela berpuasa sehari karena ingin berderma. Dialah sebenarnya orang yang paling kaya sedunia. Ingat pula pepatah sunda, “Mulangkalih aya nu dipincariosan abi aya di palihan” (sekiranya ada yang dibutuhkan, saya ada di sebelah). Biasakanlah diri Anda berderma karena dengan berderma, Anda seolah-olah sedang menanam sesuatu yang baik untuk diri Anda dan masa depan yang sedang Anda perjuangkan. Dengan berderma, nama baik Anda dan keluarga akan selalu dilindungi oleh orang banyak. Ketika mendapatkan kesulitan, Anda akan selalu mendapatkan prioritas bantuan.
10. Kebiasaan Penurut.
Pengetahuan manusia itu bisa menjadi tanpa batas, tapi kadang dipersempit dengan sikap sok tahu dan selalu merasa tahu. Tidak ada orang yang lahir dan tumbuh lantas masyur tanpa bantuan orang lain, setidaknya tanpa arahan dari orang lain. Menjadi penurut kadang bisa menyelamatkan sekaligus memberi keuntungan bagi kita. Ingat akibat sikap keras kepala Hitler yang mengabaikan nasihat jenderal terbaiknya, Erich Von Manstein? Hal ini berakibat pada kehancuran dan banyaknya korban di pihak armada tank Jerman ketika melawan armada tank Rusia (Operasi Citadel). Kisah sebaliknya terjadi pada Hilton. Atas perintah orang tuanya, ketika kecil dia tidak merasa malu untuk selalu ia melayani tamu-tamu (orang asing) yang menghuni rumahnya. Sehingga akhirnya bisnis kecilnya ini menjadi imperium besar di abad ini.source: tipsanda.com
KH Muhammad Fuad Riyadi mengatakan kunci sukses dunia akhirat ada tiga, yaitu ngaji (mendatangi majelis berguru ilmu agama), memperbanyak sedekah dan memperbanyak membaca sholawat nabi. Apabila tiga pilar agama tersebut diamalkan dengan sungguh-sungguh insya Allah sukses. Karena ketaqwaan dan kesempurnaan iman seseorang ditentukan ole tiga pilar. “Orang taqwa atau iman seseorang tinggi, pasti ilmu agamanya mencukupi, banyak sedekah/lumo/dermawan/zuhud, dan banyak membawa sholawat nabi. Orang taqwa itu dekat dengan Allah sehingga cerdas, akhlaknya mulia, rendah hati,” ujar Kiai Fuad.
Bagaimana caranya ?
Pertama, hendaknya orang itu secara rutin mengaji.
Bisa tiap hari, seminggu sekali atau paling lama 40 hari sekali. Mendatangi majelis ilmu atau berguru pada ulama hendaknya konsisten dijalani terus menerus hingga akhir hayat. Bergurulah kepada ulama yang tinggi ilmu agamanya, wirangi (hati-hati dalam perkara agama), memiliki runtutan garis ilmu hingga Rasulullah. “Memilih guru dalam agama itu harus tahu alur ilmunya hingga Rasulullah,” ujar Kiai Fuad lagi.
Kedua, banyak sedekah.
Untuk mencapai kesempurnaan dalam iman dan taqwa, orang Islam harus membiasakan sedekah. Makin banyak harta benda yang disedekahkan untuk kepentingan agama, makin baik akhlak seseorang. Namun demikian, sedekah di sini semata-mata untuk mencari pahala akhirat, menggapai ridlo Allah dan bukan untuk tujuan duniawi. Orang taqwa itu pasti zuhud, tidak cinta harta benda keduniawian, memilih akhirat sehingga harta bendanya lebih suka didermakan untuk fakir miskin, anak yatim, janda, santri (sabilillah) atau golongan lain yang berhak menerimanya.
Sementara cara agar menjadi orang zuhud atau lumo (dermawan), hendaknya seseorang melati diri dengan sedekah dalam keadaan apapun. Bisa dilakukan tiap hari dengan nominal tertentu yang makin lama makin banyak kuantitas sedekahnya atau secara prosentase mulai dari 2,5 persen meningkat hingga sempurna. Yakinlah bahwa sedekah itu tak akan mengurangi harta benda. Walaupun secara fisik, orang sedekah itu mengeluarkan harta benda namun hakekatnya ia berjual beli atau menitipkan harta bendanya kepada Allah, sang penentu rejeki. Sehingga tak ada sejarah bahwa orang jatuh miskin karena hobi sedekah. Orang taqwa itu pasti hobi sedekah, tak suka menimbun harta. Tidak ada orang taqwa yang pelit, karena sifat pelit seseorang akan menghalangi masuk surga. “Tidak ada ruang dan waktu bagi orang pelit di surga nanti”.
Biasakanlah memberikan uang atau sesuatu kepada peminta-minta tanpa reserve. Khusnudhonlah terhadap para peminta-minta kecuali engkau mengetaui secara pasti niatannya untuk berbuat maksiat. Menolak peminta-minta pada dasarnya memelihara kepelitan diri. Berilah peminta-minta biar dengan uang sedikit karena hal itu lebih baik ketimbang menolak.
Untuk menjadi dermawan ada kalanya harus dipaksa dalam bersedekah. Memaksa sedekah secara rutin merupakan tindakan baik.
Ketiga membaca sholawat Nabi.
Tidak ada orang taqwa tanpa memperbanyak membaca sholawat. Karena sholawat Nabi lah yang mengantarkan manusia menuju taqwa sempurna. Jangan pernah mimpi orang akan masuk surga tanpa syafaat Rasulullah. Syafaat Nabi hanya bisa dilakukan dengan memperbanyak membaca sholawat nabi. Biasakan membaca sholawat nabi tiap hari minimal 300 kali, atau 1.000 kali atau lebih banyak lagi. Orang yang memiliki rutinitas membaca sholawat dengan banyak kuantitasnya, pasti akan selamat. Karena doa yang pasti diterima adalah bacaan sholawat Nabi. Gus Mus berkali-kali mengatakan: “Jika tiap bibir kita yang sedang menganggur komat-kamit mengucapkan “Shallaahu ‘ala Muhammad" (Ya Allah, limpahkan sholawat untuk Nabi Muhammad s.a.w.) terus-menerus sedikitnya setahun, kok tidak sukses - bahagia - tentram - sentosa, datangi aku, ludahi mukaku dan caci-makilah diriku!”
Demikian penjelasan tiga pilar agama tersebut. Amalkan dengan konsisten seminggu, sebulan, empat puluh hari, tiga bulan, setahun atau sampai akhir hanyat. Kami sudah membuktikan amalan tiga pilar tersebut menjadikan hidup kita damai, tenteram, terbebas dari hal balak dan bencana, selalu optimis, dan dalam lindungan Allah. Dengan rutin mengaji, hobi sedekah dan selalu bersholawat setiap nafasnya, Allah dan Rasulullah selalu mendampingi hidup kita. Kedamaian, ketenteraman, kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan selalu dekat dan mengingat Allah dan rasulullah.
source : by Yuliantoro (http://yuningsihpurwoastuti.blogspot.com)
» Baca selengkapnya... »
Bagaimana caranya ?
Pertama, hendaknya orang itu secara rutin mengaji.
Bisa tiap hari, seminggu sekali atau paling lama 40 hari sekali. Mendatangi majelis ilmu atau berguru pada ulama hendaknya konsisten dijalani terus menerus hingga akhir hayat. Bergurulah kepada ulama yang tinggi ilmu agamanya, wirangi (hati-hati dalam perkara agama), memiliki runtutan garis ilmu hingga Rasulullah. “Memilih guru dalam agama itu harus tahu alur ilmunya hingga Rasulullah,” ujar Kiai Fuad lagi.
Kedua, banyak sedekah.
Untuk mencapai kesempurnaan dalam iman dan taqwa, orang Islam harus membiasakan sedekah. Makin banyak harta benda yang disedekahkan untuk kepentingan agama, makin baik akhlak seseorang. Namun demikian, sedekah di sini semata-mata untuk mencari pahala akhirat, menggapai ridlo Allah dan bukan untuk tujuan duniawi. Orang taqwa itu pasti zuhud, tidak cinta harta benda keduniawian, memilih akhirat sehingga harta bendanya lebih suka didermakan untuk fakir miskin, anak yatim, janda, santri (sabilillah) atau golongan lain yang berhak menerimanya.
Sementara cara agar menjadi orang zuhud atau lumo (dermawan), hendaknya seseorang melati diri dengan sedekah dalam keadaan apapun. Bisa dilakukan tiap hari dengan nominal tertentu yang makin lama makin banyak kuantitas sedekahnya atau secara prosentase mulai dari 2,5 persen meningkat hingga sempurna. Yakinlah bahwa sedekah itu tak akan mengurangi harta benda. Walaupun secara fisik, orang sedekah itu mengeluarkan harta benda namun hakekatnya ia berjual beli atau menitipkan harta bendanya kepada Allah, sang penentu rejeki. Sehingga tak ada sejarah bahwa orang jatuh miskin karena hobi sedekah. Orang taqwa itu pasti hobi sedekah, tak suka menimbun harta. Tidak ada orang taqwa yang pelit, karena sifat pelit seseorang akan menghalangi masuk surga. “Tidak ada ruang dan waktu bagi orang pelit di surga nanti”.
Biasakanlah memberikan uang atau sesuatu kepada peminta-minta tanpa reserve. Khusnudhonlah terhadap para peminta-minta kecuali engkau mengetaui secara pasti niatannya untuk berbuat maksiat. Menolak peminta-minta pada dasarnya memelihara kepelitan diri. Berilah peminta-minta biar dengan uang sedikit karena hal itu lebih baik ketimbang menolak.
Untuk menjadi dermawan ada kalanya harus dipaksa dalam bersedekah. Memaksa sedekah secara rutin merupakan tindakan baik.
Ketiga membaca sholawat Nabi.
Tidak ada orang taqwa tanpa memperbanyak membaca sholawat. Karena sholawat Nabi lah yang mengantarkan manusia menuju taqwa sempurna. Jangan pernah mimpi orang akan masuk surga tanpa syafaat Rasulullah. Syafaat Nabi hanya bisa dilakukan dengan memperbanyak membaca sholawat nabi. Biasakan membaca sholawat nabi tiap hari minimal 300 kali, atau 1.000 kali atau lebih banyak lagi. Orang yang memiliki rutinitas membaca sholawat dengan banyak kuantitasnya, pasti akan selamat. Karena doa yang pasti diterima adalah bacaan sholawat Nabi. Gus Mus berkali-kali mengatakan: “Jika tiap bibir kita yang sedang menganggur komat-kamit mengucapkan “Shallaahu ‘ala Muhammad" (Ya Allah, limpahkan sholawat untuk Nabi Muhammad s.a.w.) terus-menerus sedikitnya setahun, kok tidak sukses - bahagia - tentram - sentosa, datangi aku, ludahi mukaku dan caci-makilah diriku!”
Demikian penjelasan tiga pilar agama tersebut. Amalkan dengan konsisten seminggu, sebulan, empat puluh hari, tiga bulan, setahun atau sampai akhir hanyat. Kami sudah membuktikan amalan tiga pilar tersebut menjadikan hidup kita damai, tenteram, terbebas dari hal balak dan bencana, selalu optimis, dan dalam lindungan Allah. Dengan rutin mengaji, hobi sedekah dan selalu bersholawat setiap nafasnya, Allah dan Rasulullah selalu mendampingi hidup kita. Kedamaian, ketenteraman, kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan selalu dekat dan mengingat Allah dan rasulullah.
source : by Yuliantoro (http://yuningsihpurwoastuti.blogspot.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
