Peliharalah imanmu dengan memperbanyak sedekah, bentengilah hartamu dengan mengeluarkan zakat, dan tolaklah gelombang bencana dengan senantiasa berdo'a kepada Allah (Ali bin Abi Thalib r.a.)
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kisah Ujian Istri yang Sabar

Posted by nur fithriatin On Kamis, 09 Februari 2012 1 komentar
Allah Yang Maha Mulia, Maha Halus dan Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya yang selalu bersabar atas takdir, terutama takdir yang tidak berkenan yang menimpanya, tidak mencela akan tetapi ridha dengan mengharap pahalanya dari-Nya. Kepada mereka Allah nyatakan “Sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang bersabar”.

Berikut ini ada sebuah kisah yang sangat mengharukan mengenai seorang istri yang sabar atas segala ujian yang menimpanya selama 15 tahun, kemudian atas kesabarannya tersebut, Allah memberi rizki dan kasih sayangnya yang tak terkira. Kisah ini adalah kisah nyata yang saya terjemahkan dari buku Qishasasu Muatsirat Lilfatayat karya Ahmad salim Badwilan.

Kisah ini terjadi di Timur Tengah akan tetapi tidak disebutkan lokasi tepatnya. Saya hadiahkan terjemahan ini kepada seluruh istri mukminah yang sabar.

Tatkala malam-malam pengantin menjadi mimpi bagi para pemuda yang tengah memuncak birahinya, tatkala pernikahan hanya menjadi puncak tujuan untuk menyalurkan apa yang diinginkan oleh para pemuda, bahkan sebagian pemuda yang sedang ‘kepanasan’ mencari penyaluran dengan berbagai upaya. Berlari mencari tempat pelampiasan hawa nafsunya, sampaipun melakukannya diluar kaedah-kaedah dinul Islam. Entah itu dengan menggapai kesenangan yang haram, asyik khalwat bertelpon, kholwat ditempat sunyi atau via internet.
Namun disana, ada seorang akhwat yang sangat menjaga diri yang tidak pernah sekalipun melihat laki-laki sepanjang hidupnya kecuali mahramnya. Dia adalah akhwat yang hari ini hampir mustahil bisa menikah tanpa melalui proses pacaran yang lazim dilakukan para calon pasangan masa kini. Ini merupakan nikmat dan Allah akan memberikan rizki baginya seorang laki-laki shalih yang akan mengokohkan agamanya sepanjang usia.

Disinilah kisah itu bermula….

Seorang akhwat muslimah yang sangat menjaga diri,menutup wajahnya,berpegang teguh pada agamanya dan mulia akhlaknya. Kemudian Allah dengan pemeliharaan-Nya serta takdir-Nya memberinya rizki seorang suami muslim tanpa sedikitpun membuka penutup wajah, tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya tidak sebagaimana yang lazim dilakukan para pemudi hari ini. Para pemudi hari ini sebagian mereka akan bersepi-sepi berpacaran, berbicara dengan suara keras, tersenyum dan tertawa dihadapan para lelaki tanpa malu hanya untuk memperoleh jodoh.

Maka, tibalah waktu malam pengantin bersama tuntunan Islam yang indah. Kedua pengantin bergegas memasuki kediamannya. Sang istri lalu menyiapkan hidangan pembuka dan berkumpul mesra diruang makan.
Tiba-tiba, keduanya mendengar suara ketukan pintu. Sang suami menghentak dan berkata gusar, “Siapa tamu yang mengganggu ini?”
Berdirilah istri menuju pintu lalu bertanya dari balik pintu, “Siapa?”.
Terdengar jawaban, “Saya adalah pengemis yang meminta sedikit makanan”.
Si istri kemudian menyampaikan kepada suaminya, “Dia pengemis meminta sedikit makanan”.
Marah si suami sembari berkata, “Hanya gara-gara pengemis ini istirahat kita terganggu apalagi kita sedang menikmati malam pertama?”.
Si suami bergegas keluar dan langsung menghantam pengemis itu secara bertubi-tubi. Sesat kemudian, terdengar rintihan dan ringisan.
Si pengemis berlalu membawa rasa lapar dan luka yang memenuhi ruh, jasad dan kehormatannya.
Si suami kembali menemui istrinya di dalam kamar pengantin dengan hati yang penuh emosi karena gangguan yang terjadi barusan.

Sejurus kemudian, si suami terkena sesuatu menyerupai penyakit kesurupan, lalu dia merasa dunia menyempit dan menghimpitnya dengan keras. Lalu dia berlari keluar rumah dengan menjerit, meninggalkan istrinya yang ketakutan, namun itulah kehendak Allah.

Sang istri bersabar dan mengharapkan pahalanya di sisi Allah ta’ala, tak terasa lima belas tahun telah berlalu.
Setelah lima belas tahun dari peristiwa itu, seorang muslim datang meminangnya, dia menerima dan berlangsunglah pernikahan.
Pada malam pertama, suami istri tersebut berkumpul didepan hidangan pembuka yang telah disajikan. Tiba-tiba keduanya mendengar suara ketukan pintu. Berkata suami kepada istrinya, “Pergilah bukakan pintu”.
Si istri menuju pintu dan bertanya, “Siapa?”.
“Pengemis meminta sesuap nasi”, kata tamu tersebut.
Si istri menemui suaminya yang langsung menanyakan siapa tamu. Si istri berkata, “Pengemis meminta sesuap nasi”.
Maka si suami berkata, “Panggil dia kemari dan siapkan seluruh makanan ini diruang tamu lalu persilahkan dia makan sampai kenyang”.
Si istri bergegas menyiapkan hidangan, membukakan pintu lalu mempersilahkan pengemis itu untuk makan.
Si istri kembali menemui suaminya dengan menangis. Suaminya bertanya, “Ada apa denganmu?, Kenapa kamu menangis?, Apa yang terjadi?, Apakah pengemis itu menghinamu?”
Si istri menjawab dengan linangan air mata yang memenuhi matanya, “Tidak”.
“Dia mengganggumu?”, tanya suami.
“Tidak”, jawabnya.
“Dia menyakitimu?”, tanya suami.
“Tidak”, jawabnya.
“Lalu kenapa engkau menangis?”, tanya suami.
Si istri berkata, “Pengemis yang duduk di ruang tamumu dan menyantap hidanganmu adalah mantan suamiku lima belas tahun yang lalu. Pada malam penganti itu, ada pengemis datang dan suamiku memukulinya dengan keras. Setelah itu mantan suamiku kembali menemuiku dengan dada yang sempit. Aku menyangkanya dia terkena jin atau kesurupan. Dia lari meninggalkan rumah tanpa ada kabar sampai malam ini….Ternyata dia menjadi pengemis.”
Si suami tiba-tiba menangis….
Istrinya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Taukah kamu siapa pengemis yang dipukul oleh mantan suamimu dulu?”, kata suami.
“Siapa dia?”, tanya sang istri.
“Sesungguhnya pengemis itu, aku….”, suaminya menjelaskan.
Maha Suci Allah yang Maha Perkasa Maha Membalaskan, yang telah membalas seorang hamba-Nya yang faqir lagi miskin, yang datang dengan menundukkan kepalanya mengemis kepada manusia demi sesuap nasi untuk mengganjal rasa lapar dan dahaga. Rasa itu telah berlipat sakitnya dengan luka penzhaliman pada diri dan kehormatannya.
Sesungguhnya Allah tidak meridhai kelaliman, maka Allah menurunkan hukuman bagi siapa saja yang menghinakan hamba yang terzhalimi. Cukuplah bagi dia untuk bersabar atas ujian yang menimpa sampai Allah memberinya rizki yang berlimpah dan mengkayakannya dihadapan manusia. Kemudian Allah ganti menguji kepada lelaki yang zhalim, maka Allah mencabut seluruh kekayaannya dan jadilah dia pengemis nestapa.
Maha Suci Allah Yang Maha Mulia, yang telah memberi rizki seorang ibu mukminah yang selalu bersabar atas ujian Allah – selama lima belas tahun -, maka Allah menggantinya dengan suami yang jauh lebih baik dari pada mantan suaminya dulu.

Semoga menguatkan kesabaran, keyakinan akan janji kasih sayang dari Yang Maha Penyanyang.
Ambil sebuah hikmah dari sebuah pengalaman…….
semoga bermanfa’at
salam Ukhuwah fillah

source: http://inspirasiislami.com
» Baca selengkapnya... »

Hak-Hak Anak Yatim

Posted by soni On Rabu, 28 Desember 2011 0 komentar
OlehProf Dr KH Achmad Satori Ismail

Ka'abbin Malik RA berkata, "Masalah pertama yang menyebabkan Abu Lubabah tercelaadalah karena dia dan anak yatim berselisih tentang dahan banyak tangkai (yangdisenanginya)." Keduanya mengadu kepada Rasulullah SAW dan beliaumemenangkan Abu Lubabah. Anak yatim tersebut menangis. Lalu Rasul bersabda,"Wahai Abu Lubabah, berikanlah dahan itu untuknya." Abu Lubabahkeberatan. Rasulullah SAW mengulangi permintaan beliau, "Berikanlah dahanitu kepadanya dan kamu akan mendapatkan surga."

Tapi, Abu Lubabah tetap menolak. Tidak lama kemudian datanglah Abu Dahdahmenghampiri Abu Lubabah seraya berkata, "Juallah dahan itu dengan duakotak kebunku." Abu Lubabah menerimanya.

Lalu, Abu Dahdah membawa dahan itu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata,"Wahai Rasul, jika aku berikan dahan ini kepada anak yatim itu, apakah akuakan mendapatkan semisal dahan ini di surga." Nabi SAW mengiyakannya.Maka, dahan itu diberikan kepada anak yatim itu, dan Rasul bersabda,"Betapa banyak dahan wangi yang dimiliki Abu Dahdah di surga kelak."( HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap anakyatim. Kalau kita telusuri ajaran Islam, kita dapatkan aneka cara dalammemperlakukan hak anak yatim.
Pertama, berbuat baik kepada anak yatim merupakan akhlak Islam yang agungbahkan dijadikan sebagai amalan paling utama dan paling suci. (QS al-Baqarah[2]: 177). Sebelum Islam datang, anak yatim tak mendapatkan perhatian apalagisantunan yang layak. Lalu, Islam memuliakannya dan melarang untukmengeksploitasinya. (QS al-An'am: 152-153, al-Isra: 34).

Memakan harta anak yatim merupakan salah satu dosa besar dan penyebab masukneraka. Rasul SAW bersabda, "Jauhilah tujuh dosa besar, yakni menyekutukanAllah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, memakan riba,memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanitamukmin yang lalai." (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Alquran melarang penghinaan dan menyakiti anak yatim. (QS al-Fajr:15-23, adh-Dhuha; 9, al-Ma'un: 1-3). Dan ketiga, Alquran memerintahkan supayakita memuliakan anak yatim dan balasannya adalah surga. (QS al-Insan: 8-22).

Keempat, Nabi telah menegaskan bahwa anak yatim dan wanita lemah adalahgolongan yang harus diperhatikan dan dipelihara. Abu Syureih al-Khuza'imeriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, akumerasa berat dengan hak dua kelompok lemah ini, yaitu hak anak yatim dan hakperempuan." ( HR an-Nasai).

Kelima, Islam menegaskan bahwa penyantun dan penjamin anak yatim akan menjaditeman dekat Rasulullah di surga. "Aku dan penjamin anak yatim berada dalamsurga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jaritengah dan menjarangkan jari-jari lainnya. ( HR Bukhari dan Ahmad).

Keenam, rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yangdimuliakan, dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang ada anak yatim, namundihinakan. Dari sini, kita wajib menyantuni anak yatim dan memperhatikanhak-hak mereka bukan saja aspek material tapi juga aspek pendidikan, ekonomi,sosial, dan spiritual.


source: SiwiTri Puji B 
» Baca selengkapnya... »

Baca Al Quran Tentang Fenomena Dahsyatnya Bisnis MLM

Posted by soni On Kamis, 22 Desember 2011 0 komentar
Bacalah! Dengan membaca dan belajar Al Quran kita dapat menemukan inspirasi bisnis. Baca Al Quran surat An Nisa 85 tentang fenomena dahsyatnya bisnis Multi Level Marketing (MLM). Ini salah satu keajaiban Al Quran yang patut kita banggakan. Bisnis MLM yang sering anda jumpai, sebenarnya mengadopsi sistem ini. Tapi hukum bisnis MLM tidak bisa dipukul rata, karenanya tidak semua bisnis MLM boleh kita ikuti. Perusahaan yang telah disertifikasi sebagai pebisnis MLM syariah oleh Dewan Syariah Nasional MUI hanya beberapa saja.

Hari ini saya tidak bicara tentang bisnis MLM biasa, yang produknya biasa dan komisinya juga pasti biasa! Ini tentang MLM-nya Gusti Allah yang luar biasa, komisinya full 100%…  MLM yang wajib – sekali lagi, wajib! – anda ikuti.

Dalam sistem Multi Level Marketing (MLM), siapapun yang berhasil mengajak orang lain untuk menggunakan produknya (baca: menjual), maka ia akan memperoleh komisi dari keberhasilan tersebut. Dengan prinsip getuk tular ini, perusahaan MLM dapat menghemat ratusan milyard karena tidak perlu mengeluarkan biaya iklan. Just info, biaya iklan TV per spot (30 detik) dapat mencapai Rp 14 juta (gatra.com). So, setiap tahun biaya iklan di 3 TV, @10 spot per hari adalah 365 x 3 x 10 x Rp 14jt = 153 Milyard! Belum lagi ditambah Rp 150 Milyard untuk biaya iklan billboard jalan raya di 50 kota besar. Belum lagi iklan di koran, iklan radio, iklan internet dsb…

Bebas biaya iklan, dapat menghemat ratusan milyard, adalah keunggulan utama sistem MLM. Penghematan lainnya, sistem bisnis MLM ini tidak perlu menggaji salesman. Uang itulah yang digunakan untuk mengupah anda selaku member MLM yang getol mengiklankan produknya. Itulah dahsyatnya bisnis MLM!
Ketahuilah, bahwa sistem MLM yang dahsyat ini ternyata merupakan salah satu mutiara hikmah yang terdapat dalam kitab suci kita. Baca Al Quran surat An Nisa ayat 85:

“Barang siapa yang memberi syafaat kebaikan, maka ia akan memperoleh bagian darinya”.

Syafaat dapat berupa ajakan, informasi, motivasi, sarana dan lain-lain. Ayat ini diperjelas oleh sabda Nabi: “Barangsiapa merintis jalan kebaikan dalam Islam, berarti dia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim)

Contoh: jika kita mengajak 10 orang untuk menghadiri pengajian, maka kita akan mendapatkan bonus pahala sebanyak pahala 10 orang (down line) yang kita ajak, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Ya, komisinya full 100%… Inilah MLM terdahsyat yang wajib anda ikuti.
Karena itu, mari senantiasa kita berpesan, saling menasihati, memberi informasi, mengajak, memberi sarana dan memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Carilah downline sebanyak-banyaknya untuk bekal kita di akhirat kelak….

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali yang beriman dan beramal shaleh, serta saling menasihati (berdakwah) tentang kebenaran dan kesabaran. (QS Al Ashr: 1-3).

Demi waktu, lakukan sekarang! Carilah downline sebanyak-banyaknya...

source
» Baca selengkapnya... »

Tadi malam saya memberikan tausiyah singkat di sebuah rumah duka. Saya memulainya dengan melontarkan pertanyaan: “Bapak Ibu yang saya hormati… ada berapa amalan yang pahalanya terus mengalir?”. Sebagian kecil hadirin menjawab “tiga”. Yang lain beku, rupanya enggan menjawab pertanyaan mudah ini.

Untuk memancing semua hadirin buka mulut, saya melanjutkan pertanyaan dengan full power.

“Baik, jadi amalan yang pahalanya terus mengalir ada tiii…….?
“Gaaa……” Kali ini seluruh hadirn kompak menjawabnya. Ini yang disebut dengan simple ice breaker, cara paling mudah untuk memecah kebekuan.

Tapi saya segera menimpalinya dengan mengatakan:
Tiiigaaa raaatuuus….!!!

Hah…! Semua hadirin kaget mendengarnya…. Ada juga yang bingung bin bengong. Bahkan ada yang berteriak “Kok tiga ratus!?”

Kemudian saya perkuat dengan penegasan repetisi.

“Amalan yang pahalanya terus mengalir ada tiga ratus…, bukan hanya tiga, Bu…”
“Amalan yang pahalanya terus mengalir bukan hanya tiga…, tapi tiga ratus, Pak…. Bahkan lebih!”
Hadirin semakin bengong…

“Sekarang mari kita hitung .. yang pertama adalah shadaqah jariyah, yang kedua….?” Saya pancing pertanyaan agar suasana tausiyah lebih hidup.

“Ilmu yang bermanfaat” Jawab hadirin.
“Yang ketiga…?” Saya bertanya lagi.
“Anak shaleh yang mendoakan” Hadirin meneruskan.
“Yang keempat…?” Saya diam sejenak untuk membuat tausiyah makin diminati.

Seperti dugaan saya, tak seorangpun dapat menjawabnya. Anda juga? He he …
Semua trik di atas memang sengaja saya lakukan untuk menciptakan presentasi menarik.

Terbukti: sampai di sini seluruh hadirin pasang telinga, tak ada yang ngobrol dewek-dewek. Sangat antusias mengikuti tausiyah yang bikin penasaran itu.

Lanjut ya, cerita tausiyahnya…

“Yang keempat sampai ketiga ratus, ini berdasarkan sebuah hadits Nabi yang berbunyi: Ketika seorang hamba sedang sakit atau bepergian, maka baginya ditulis seperti amal yang dikerjakannya ketika dia mukim dan sehat (HR Bukhari).

Jadi seandainya kita setiap hari baca Al Quran, kemudian kita sakit sehingga tidak bisa membacanya, maka pahala baca Al Quran akan terus kita dapatkan.
Demikian juga jika kita rutin puasa sunnah, puasa Senin Kamis, puasa mutih, shalat berjamaah di masjid, dll. Jika kita sakit, baik sebentar atau sakit yang bertahun-tahun, maka pahala amalan-amalan tersebut akan terus mengalir walaupun kita tidak mengerjakannya.

Termasuk jika kita setiap hari pergi dengan membaca doa Bismillahi tawakkaltu alallah laa haulaa walaa quwwata illa billaahil aliyil adhiim. Lalu kita sakit dan tidak bisa bepergian dengan doa harian tersebut, maka pahala amal itupun akan tetap mengalir walaupun kita tidak mengerjakannya.

Nah, baru apabila seseorang meninggal maka terputuslah seluruh amalnya yang 297 itu, sisanya tinggal tiga hal yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan. Sesuai hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim.

Hadirin yang berbahagia, tentu kita sering melihat orang-orang yang sakit berkepanjangan. Sakit bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun. Betapa ruginya mereka jika semasa sehatnya tidak memiliki amal-amal rutin. Bagaimana jika hal ini menimpa diri kita sendiri?”

Oleh karena itu, mari kita perbanyak amalan-amalan rutin. Karena pahalanya terus mengalir walaupun kita tidak mengerjakannya karena sakit atau safar.”

source
» Baca selengkapnya... »